Untuk Homeschooling Apa Perlu Masuk Sekolah Formal Dulu?

Masih merangkum acara talkshow Indonesia Strong from Home,  radio smart fm, oleh Ayah Edy, tanggal 09 April 2013 yang lalu. Dalam talk show yang mengambil tema “Memulai Perubahan Pada Diri Sendiri” tersebut muncul pembahasan mengenai Home Schooling. Makanya saya pisahkan tulisannya di sini, sebagai kelanjutan tulisan saya sebelumnya di fuadmuftie.com.

Home Schooling / Home Education (image source: www.guardian.co.uk)

Home Schooling / Home Education (image source: www.guardian.co.uk)

Apakah Untuk Homeschooling Perlu Masuk Sekolah Formal Dulu?

Salah seorang pendengar Radio Smart FM mengajukan pertanyaan mengenai niatnya untuk meng-homeschooling-kan anaknya, “apakah perlu untuk memasukkan anaknya ke sekolah formal dulu, baru nanti kalau ada masalah dan mentok baru ditarik untuk homeschooling (HS)?

Tentang HS memang banyak pro dan kontra, karena setiap orang berpendapat sesuai pemahaman atau pengalamannya masing-masing. Namun, biasanya pihak-pihak yang kontra atau tidak setuju dengan Home Schooling (HS) kebanyakan tidak menyukai sejarah (tidak belajar dari sejarah). Padahal sejarah itu kan penting, karena itu kejadian faktual dan otentik.

Berbeda dengan pendapat para ahli dan para pakar, kebanyakan baru berbentuk prediksi atau proyeksi masa depan.

Kembali ke sejarah HS / Home Education (HE),  penggagas HS/HE justru orang-orang berpendidikan di Inggris. Mereka melihat kalau sekolah malah tidak membentuk manusia menjadi orang yang beretika, tidak menjadi lebih baik / lebih manusiawi. Sekolah justru mencetak generasi robot, bukan HUMAN BEING tapi cuma HUMAN DOING.

Jadi mereka berpikir, kalau anaknya dikirim ke institusi malah jadinya seperti ini, ya untuk apa?

Analoginya seperti ini, kalau kita punya uang dan ingin uangnya berkembang, maka kita mencari investasi. Kemudian ketemu investasi emas, misalnya. Tetapi bukannya mendapatkan untung, malah tertipu dan uangnya hilang ludes. Jadi, kalau sudah begini apakah kita mau investasi ditempat yang sama lagi? (Kalau pendidikan / sekolah, bukan uang yang kita pertaruhkan, tapi anak kita sendiri.)

Jadi orang-orang intelek di Inggris waktu itu, mulai menarik anak-anaknya dari sekolah. Mereka mengolahnya (meng-HS-kan) anak-anaknya sesuai keinginannya, sesuai apa yang diharapkan pada diri anak. (Yang pastinya, ingin anaknya lebih baik, berkarakter, dan manusiawi)

Terus bagaimana dengan HS yang gagal?

HS/HE adalah true story / kisah nyata kehidupan seseorang. Pasti ada yang berhasil dan ada yang gagal. Faktor penyebabnya ya orang tua itu sendiri. Kalau orang tuanya kasar, suka memukul, pemarah, maka itu yang akan diturunkan pada si anak. Program utama dari HS/HE ya sesuai dengan program pemikiran orang tua sendiri.

Prinsip HS/HE

Prinsip untuk meng-HS/HE-kan anak-anaknya itu adalah:

1. HS/HE bukan untuk orang bermasalah

2. HS/HE itu karena system yang bermasalah. Seperti yang dalam sejarah di Inggris tadi, sistem pendidikan tidak memanusiakan manusia.

Jadi, kalau keinginan orang tua mau menyekolahkan anak ke sekolah formal dulu, ya boleh saja demikian. Kemudian lihat perkembangan anak.  Lihat gejala-gejala yang dialami anak. Kalau semula ceria sekarang pendiam, tadinya kreatif sekarang masa bodoh, tadinya terbuka sekarang tertutup, ya itu sudah jadi pertanda tidak baik.

Kalau sudah yakin ada cacat kurikulum, ya langsung saja ambil HS/HE. HS/HE ini untuk menyelamatkan anak dari system yang tidak baik.

Kalau nantinya sistem pendidikan sudah baik, sudah ramah otak anak, sudah manusiawi, seperti di Finlandia dan Jepang, maka kita kembalikan lagi anak-anak ke institusi sekolah.

Mengembangkan Potensi Anak

Manusia selalu ada kekurangan dan kelebihan. Fokuslah pada kelebihan. Jangan fokus pada kekurangan (jangan fokus pada nilai ujian anak yang jelek, dengan memberikan les dan kursus pada bidang yang jelek nilainya.)

Kalau anak dari kecil suka bergerak, menari, dan suka bicara, fokuslah ke situ. Karena potensi anak tersebut adalah untuk perform untuk tampil di muka umum. Bukan duduk diam di belakang meja.

Mengembangkan Potensi Anak

Mengembangkan Potensi Anak
(image source: flickr.com)

Ingatlah Filosofi Pintu Hotel

Kalau kita ingat hotel jaman dulu, untuk membuka pintunya kita memakai anak kunci yang diputar di pintunya. Sementara sekarang, untuk membuka pintu hotel cukup menggunakan kartu magnetik. Jadi untuk membuka pintu sukses anak jaman sekarang tidak bisa lagi memakai anak kunci sukses jaman dulu.

Buatlah Impian Yang Besar

Kalau kita menanamkan mimpi pada diri anak untuk menjadi tari jaipong keliling kampung. Maka nanti si anak ya cuma akan jadi penari jaipong keliling kampung.

Coba tanamkan mimpi pada si anak untuk menjadi penari jaipong keliling dunia (Eropa, Amerika, dll), maka demikianlah kelak si anak akan berkeliling dunia mempromosikan tari jaipong.

Bakat Anak itu Turunan Atau Bukan?

Ada pertanyaan “apakah bakat anak itu keturunan atau bukan?

Sesuatu (bakat anak) itu tercipta karena Genetika + Pola Asuh.

Contohnya Mozart: Meskipun masih anak-anak Mozart sudah bisa menciptakan / membuat komposisi musik klasik. Dia bisa begitu karena dia orang Eropa. Coba bayangkan kalau Mozar lahir dan besar di Indonesia waktu itu. Mungkin dia tetap jenius (berbakat) di musik, tapi kalau lingkungannya tidak mendukung, dia tidak akan berkembang.

Banyak orang tua-orang tua kita yang takut karena keterbatasan rejeki untuk mengembangkan potensi anak. Mimpi anak sudah tinggi, tapi orang tua berhitung dengan rejeki yang sekarang si orang tua miliki. Ini bagaimana?

Kalau sudah punya mimpi ya jangan menyerah. Ajukan saja permohonan kepada Yang Maha Kaya. Contohnya pernah ada anak SMP yang hoby balap. Dia masuk race (lomba balap) dan posisinya bagus, sementara pesaingnya sudah lebih tua dibanding dia. Disarankan agar si anak masuk ke sekolah pembalap. Dan ketika dicari sekolah balap yang bagus adanya di luar negeri. Disarankan untuk sekolah balap di Jerman karena memang bagus. Ternyata biayanya sangat mahal, butuh biaya milyaran rupiah.

Kemudian dengan memanjatkan doa, ternyata jalannya terbuka, karena ada pihak yang memberikan sponsor si anak untuk sekolah balap.

Perlu diingat bahwa 99% orang sukses itu dulunya juga miskin!

Demikian yang bisa saya sarikan dari acara talkshow Indonesia Strong from Home,  radio smart fm, oleh Ayah Edy, tanggal 09 April 2013 kemarin. Semoga bermanfaat

Fuad Muftie

No Responses to “Untuk Homeschooling Apa Perlu Masuk Sekolah Formal Dulu?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*