Kecerdasan Anak Lebah v.s. Kecerdasan Anak Manusia

fuadmuftie.com :: Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan kepada Alloh SWT karena kembali saya bisa mengikuti talkshow live bersama Ayah Edy, malam kemarin tanggal 01 Juni 2013. Ini kali kedua saya menghadiri talkshow Ayah Edy yang berisi talkshow parenting. Keduanya saya hadiri di MoI Jakarta Utara dalam acara Compassion Festifal.

Tema talkshow Ayah Edy kali ini adalah mengenai Kecerdasan Anak Lebah vs Kecerdasasan Anak Manusia. Memang suatu perbandingan yang kontras untuk mensejajarkan kecerdasan anak lebah dan kecerdasan anak manusia. Saya pikir semua pasti yakin seyakin-yakinnya kalau anak manusia jauh lebih cerdas daripada anak lebah.

lebah

Lebah

Namun, Eyah Edy bukan tidak ada maksud dengan membandingkan kecerdasan kedua mahluk ini. Secara ilmiah dilihat dari jumlah sel, terutama sel otaknya, anak manusia jauh lebih unggul. Sedangkan lebah, meskipun sel otaknya hanya sedikit dibanding sel otak anak manusia, tapi lebah sendiri memiliki keunggulan / kecerdasan yang luar biasa seperti : kemampuan dalam membangun sarangnya yang menakjubkan (pemilihan bentuk hexagonal, kemiringan ruang, presisi pembuatan sarang dll) yang sungguh mencerminkan mahluk yang cerdas. Kemudian lebah juga punya karakter yang bagus: disiplin, kerjasama, kebersihan, simbiosis mutualisme, dll.

Tapi dari sisi kita sebagai orang tua, di alam bawah sadar kita, masih meyakini bahwa anak kecil / bayi itu adalah mahluk yang polos dan perlu ‘ditingkatkan’ kecerdasannya. Dengan kata lain, di alam bawah sadar, kita meyakini bahwa anak manusia itu tidak cerdas.

Nah dari sinilah ujung pangkal carut marut kita dalam mendidik anak dan men-sekolahkan anak. Anak terus dituntut untuk tambah cerdas, dengan menyekolahkannya di sekolah unggulan dan favorit, ikut les ini dan les itu. Tapi kecerdasan yang ditanamkan hanyalah kecerdasan semu. Yang selama ini diagung-agunkan sebagai kecerdasan anak tak jauh dari angka-angka raport dan nilai ujian. Padahal yang diujikan hanyalah pertanyaan-pertanyaan yang sudah ada jawabannya dan bukan pertanyaan yang menguji kreatifitas anak. Lebih naasnya lagi justru banyak pertanyaan-pertanyaan ujian yang tidak cerdas sama sekali.

Terus bagaimana dg anak berkebutuhan khusus?

Anak berkebutuhan khusus juga punya kelebihan dan kecerdasan yang bagus. Ayah Edy mencontohkan bagaimana seorang anak dari Korea, yang terlahir dalam kondisi tidak bisa melihat. Namun pada umur 3 tahun dia sudah minat dengan piano. Padahal kedua orang tuanya tidak ada bakat musik sama sekali. Dan pada umur 5 tahun dia sudah berhasil menunjukkan kemampuannya dengan bermain piano klasik. Bahkan secara sepontan dia diminta mengiringi penyanyi yang menyanyikan lagu yang tidak pernah dia dengar sebelumnya. Nama anak tersebut adalah Yoo Ye-eun

Ayah Edy juga menceritakan bagaimana beliau membimbing anak-anak yang berkebutuhan khusus. Dari yang semua dianggap sudah tidak ada harapan, sekarang bisa tumbuh layaknya anak normal. Bisa mengikuti pelajaran dan punya harapan yang besar untuk masa depannya.

Dalam sesi tanya jawab, ada seorang Ibu, yang menanyakan bagaimana dengna anaknya yang di cap auit?

Kembali Ayah Edy menyajikan data dan fakta. Bahwa sebagian besar anak yang dicap autis, sebenarnya bukanlah autis yang sebenarnya. Hanya label-label yang memudahkan orang lain men-judge anak kita. Kalaupun dia anak autis yang sebenarnya. Masalahnya adalah pada sistem pencernaan si anak. Anak autis tidak bisa kemasukkan susu sapi dan gandum (serta produk turunannya) ke dalam sistem pencernaannya. Kalau ia sempat minum susu sapi atau makan produk yang terbuat dari gandum, maka dia akan menampakkan gejala-gejala yang orang menyebutnya autis. Nah tinggal jauhkan anak kita (yang di labeli autis) dari kedua produk tersebut.

Kemudian dari sisi orang tua agar melakukan tiga hal ini :

a. Accepet (Terima) apa adanya anak kita.

Orang mau bilang apa saja terhadap anak kita, kita harus menerima sepenuh hati anak kita, apapun kondisinya, apapun keadaannya, apapun kata orang. Ayah Edy mencontohkan bagaimana Stepehn Hawkins, seorang yang lumpuh dari leher sampai ujung kaki, bisa menjadi fisikawan dan penerima hadiah nobel. Karena disisinya ada istri yang mau menerima apa adanya dan support 100% kepada suaminya.

b. Feel It (Rasakan) dengan sepenuh jiwa.

Kita orang setelah menerima apa adanya kondisi anak kita, kita mesti bisa merasakan segala perasaan dan emosi yang hadir pada diri kita. Kalau kita ingin menangis menangislah. Kalau kita sedih, rasakan kesedihannya. Semua emosi dan perasaan, rasakan dan wujudkan tanpa perlu ditahan-tahan, tanpa perlu disembunyikan.

c. Let It Go (Lepaskan / Ikhlaskan)

Ini langkah yang penting, kalau sudah menerima apa adanya, sudah merasakan segala emosi, maka lepaskan segala beban itu. Dalam bahasa kita, ini kita kenal dengan Ikhlaskan. Ikhlaskan segala yang kita terima.

Dan sebagai tambahan, tetaplah bersyukur. Bersyukur anak kita cuma autis, kemudian lihatlah tubuhnya masih sehat, kakinya masih bisa buat melompat, tangannya masih bisa memegang benda, melempar benda, coba bandingkan dengan orang lain yang lumpuh. Maka tetaplah bersyukur.

Analogi bibit tumbuhan vs kecerdasan anak

Kembali berbicara mengenai kecerdasan anak di mata sistem pendidikan / sekolahan. Kalau boleh diibaratkan anak-anak kita adalah sama layaknya benih-benih tumbuhan.

– Ada anak seperti bibit mangga, yang harus dirawat dan dipupuk layaknya pohon mangga.
– Ada anak seperti bibit jambu, yang semestinya diperlakukan sebagaimana pohon jambu.
– Ada anak yang seperti bibit apel, yang perlakuannya harus seistimewa pohon apel.

Namun yang terjadi dalam sistem pendidikan kita. Semua anak diperlakukan sama dan dianggap sama. Semua dipupuk dengan pupuk yang sama, semua dipaksa tumbuh dengan cara yang sama. Semua benih kemudian di steak, di cangkok, dipangkas, biar semua seragam. Kalau tidak seragam maka dia salah. Anakpun terus tumbuh, dan pada saatnya berbuah, ternyata batangnya tidak lagi kuat. Akhirnya diapun tumbang.

Nah, semestinya kita sebagai orang tua, tau persis apa benih yang ada dalam diri anak kita. Ini kita sebut dengan multiple intelligent. Ada anak yang bakat di musik, maka biarlah ia tumbuh sebagai musisi. Ada anak yang passionnya dalam bidang Bus, maka biarlah dia tumbuh sebagai desainer bus, sebagai perancang bangun mesin bus, sebagai arsitek sistem transportasi.

Ini diperlukan usaha dari orang tua, untuk terus mengamati, mengobservasi, dimana keunggulan si anak. Kalau ada kelemahan jangan dibesar-besarkan. Ini yang terjadi di banyak orang tua kita. Kalau ada anaknya yang mendapat nilai merah pada salah satu pelajaran. Maka mati-matian orang tua memberikan les dibidang yang dianggap lemah. Kenapa tidak fokus saja di kelebihannya?

Bagaimana Agar Yakin Dalam Menjalani Home School

Dalam talkshow ini juga hadir seorang ibu yang ingin menjalankan home schooling, tapi minta kembali diyakinkan apakah langkahnya sudah tepat.

Ayah Edy cuma mengingatkan bagaimana yang terjadi dalam sejarah-sejarah para tokoh besar jaman dulu. Hampir sebagian besar mereka tidaklah sekolah. Mereka belajar dimana saja, kepada siapa saja. Dan itu namanya juga Home Schooling.

Kalau dulu orang-orang tidak ada yang sekolah tapi bisa menjadi tokoh besar. Tapi kenapa sekarang banyak yang sudah makan sekolahan, tapi sedikit yang menjadi orang besar?

Ayah Edy tidaklah anti sekolah, tidaklah membenci sekolah. Bahkan saat ini Ayah Edy sudah punya 4 sekolah. Hanya saja banyak sekolah yang ada sekarang tidak ramah otak anak, tidak mengedepankan ahlak dalam pendidikannya. Kalau sekolah yang ada sudah ideal, maka mari ramai-ramai kita kembalikan anak kita ke sekolah.

Bagaimana Menyikapi Anak Yang Menolak Meningkatkan Kemampuan Dibidang Yang Sudah Diminati

Ada seorang ayah yang menanyakan mengenai anaknya yang sudah kelihatan minat dan berbakat di bidang musik, khususnya memainkan alat musik biola. Namun saat ayahnya mengarahkan untuk meningkatkan kemampuan biolanya justru si anak menolak.

Ayah Edy kembali menegaskan agar orang tua hanya sebagai pengamat. Jangan paksakan keinginan orang tua kepada anak, meski itu bidang yang sudah diminati anak. Biarkan ia tumbuh secara alami. Seperti layaknya pohon-pohonan tadi, biarkan dia tumbuh dan jangan berlebihan memberi pupuk. Kalua pohon baru tumbuh, kita sirami dengan pupuk yang berlebihan maka dia justru akan mati.

Anak kitapun sama, kalau dia minat bidang A, tapi kita terlalu memaksa, meski niat kita sebenarnya bagus, justru anak akan tertekan dan tumbuh tidak alami lagi.

Jadi tetaplah jadi pengamat / observer, dan berikan apa yang anak siap terima.

Semoga Bermanfaat.

Fuad Muftie

PS: Bagi para orang tua atau guru yang ingin memperbaiki diri, ingin mendidik anak / murid dengan cinta sesuai fitrah anak, untuk mengedepankan perbaikan ahlaknya, maka milikilah kumpulan talkshow Ayah Edy dalam bentuk DVD gratis. Tulislah komentar di sini, dengan menyebut nama dan alamat anda, nanti akan kami hubungi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*