Doa Untuk Putraku – oleh Douglas Mc. Arthur (2)

FuadMuftie.Com :: Kembali saya ingin melanjutkan postingan saya mengenai catatan-catatan saya dari hasil mendengarkan acara Indonesia Strong From Home, di Radio Smart FM Jakarta, bersama Ayah Edy, yang ditayangkan pada hari Selasa tanggal 24 April 2013 (siaran ulang Sabtu 27 April 2013), yang sebelumnya telah saya posting di sini.

Lanjutan Doa Untuk Putraku – oleh Douglas Mc. Arthur:

Jadi Douglas mengajak kita untuk memperkenalkan anak pada Tuhan, sebelum memperkenalkan pada (aturan-aturan) agama. Karena agama itu kepunyaan (ciptaan) Tuhan, jadi urutannya itu perkenalkan Tuhan baru perkenalkan (aturan-aturan) agama.

Sebenarnya mengenalkan agama dulu baru Tuhan, itu bisa saja. Namun yang biasanya terjadi pada saat mengenalkan agama, kita cenderung tertarik untuk lebih kepada mengenalkan aturan-aturan, tanpa melihat hakekatnya kenapa aturan itu dibuat (why-nya).

Jadi Douglas berusaha mengenalkan Tuhan dulu, makrifat dulu, baru bisa bicara tentang aturan-aturan. Kita perlu mengajarkan hakekatnya kenapa kita hidup, kenapa kita ada di bumi, kenapa ada matahari, kenapa ini, kepada itu, dst. Saat sudah paham kenapanya dan paham akan Tuhan, baru kita bicara kenapa ada aturan ini, kenapa ada ketentuan begitu. Jadi yang muncul adalah awareness (kesadaran).

Pada saat aturan itu diberlakukan, dia (anak) sadar bahwa itu memang diperlukan, bukan karena terpaksa. Seperti peraturan lalu lintas, pada saat seorang anak diperkenalkan begini: “apa yang terjadi kalau sama-sama truk dengan truk bertemu bareng di perempatan?” Benturan atau tabrakan. “Terus apa yang terjadi setelah tabrakan? Terus untuk mencegahnya seperti apa?”

Si anak akan bilang “Lampu merah! Oooo saya mengeri kenapa harus ada lampu merah. Dan saat lampu merah kita harus berhenti”. Jadi begitu dia berada di lampu merah, yang muncul adalah sadar. Jadi dia akan menjalankan aturan secara sadar.

Tapi kalau anak tidak ditanya seperti itu dari kecil, lalu tiba-tiba dibilang “Nak, di lampu merah harus berhenti ya! Ini nggak boleh. Itu nggak boleh!” Maka yang terjadi adalah seperti sekarang ini. Lampu merah dilanggar. Karena ia tidak sadar. Dia melakukan itu bukan dengan kesadaran.

Jadi, didiklah anak dengan “kesadaran”

Tuhanku…
Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.

Bait ini kesannya memang kejam. Tapi lihat pada orang tua sekarang yang sering bilang begini “Saya tuch sedang manjain anak. Saya nggak ingin yang dulu saya alami, dialami oleh anak saya”

Coba resapi dalam-dalam pernyataan itu. Itu adalah kalimat yang menjerumuskan. Pada saat orang bilang saya tidak ingin yang dulu saya lami, dialami oleh anak saya, padahal kita sukses ini karena mengalami hal itu.

Jadi semua pengalaman dulu yang pahit, getir, jungkir balik, itu sebenarnya adalah kurikulum yang dirancang oleh Tuhan bagi kita supaya menjadi orang kuat/strong dan sukses. Tapi mana kala kita bilang kita tidak mau yang kita alami dulu dialami anak saya, itu artinya kita memangkas kurikulum sukses yang sudah diberikan oleh Tuhan.

Lantas apa memang kesulitan, penderitaan yang dulu dialami orang tua harus dialami oleh anakanya?

Tidak harus persis sama, tapi bisa dalam konteks yang berbeda, tidak persis sama. Misal kalau dulu jaman Douglas McArthur menjalani perang, ya nggak mesti anaknya berperang juga. Yang dimaksudkan disini adalah agar anak berupaya sendiri  dan tidak banyak diberi fasilitas.

Nah kebalikan dengan reaksi kita para orang tua saat ini adalah untuk supaya anaknya tidak mengalami (kesulitan), kemudian diberikan banyak fasilitas. Dan terbukti sudah bahwa kita melihat di negeri ini, anak seorang pembesar yang dulunya banyak diberi fasilitas kemudian jadi pengusaha, begitu ayahnya meninggal hancur semua usahanya. Kenapa? Karena dia tidak melalui sebuah proses yang alami. Semua serba di fasilitasi.

Jadi kalau kita berpikiran ingin terus memfasilitasi anak terlalu banyak dan terlalu enak, lihat saja nanti hasilnya.

Ada pepatah “kalau samudra yang tenang itu tidak akan melahirkan pelaut yang tangguh”. Kalau cuma naik perahu di danau, tidak mungkin akan terkenal seperti Columbus. Columbus terkenal karena dia menantang badai, mengarungi samudra, bukan mendayung di danau.

Kebanyakan doa kita adalah “Ya Tuhan, tolong berikan kemudahan pada anakku”, bukan “berikan kekuatan”. Padahal kalau diberikan kemudahan… kemudahan… dan kemudahan… begitu ketemu masalah, dia akan pusing.

Berikan kekuatan untuk mengatasi setiap hambatan, itu jauh lebih powerful daripada berikan kemudahan. (Karena kalau cuma diberi kemudahan), Begitu ada kesulitan akan stress dia.

Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai
dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ini dahsyat sekali, ini kejadiannya begini, ini doktrin militer jaman Douglas McArthur. Waktu itu terjadi pertempuran dahsyat antara tentara Jerman (Nazi) melawan tentara Inggris. Mereka bertempur habis-habisan sampai akhirnya kapal Jerman (bismarck) itu tenggelam dan kru-krunya sebagian mengapung di laut. Jadi musuhnya Inggris sudah mengapung di laut. Kemudian apa yang terjadi? Para musuh yang barusan bertempur habis-habisan diselamtkan oleh tentara Inggris.

Dan pada saat orang-orang yang diselamatkan ini diwawancarai oleh National Geography, merakan mengatakan, “setelah saya naik ke kapal Inggris, kami diperlakukan seperti saudara kandung, kami ditolong, diberi selimut, dielapi, dikasih makan, kemudian di taruh di tempat yang layak.”

Bayangkan, (saat menonton ini) saya sampai menetes air mata, koq bisa ya?? Tentara yang sebelumnya habis-habisan bertempur di Samudra. Tentara Inggris ingin menghancurkan Bismarck, dan Bismarck ingin menghancurkan kapal inggris. Begitu Bismarck tenggelam, tentaranya mengapung. Tentara Inggris malah menolong. Koq bisa ya mereka nggak berantem, malah dirangkul dan dirawat.

Ini adalah kesaksian orang Jerman yang ditolong oleh Angkatan Laut Inggris, orangnya masih hidup dan jadi veteran.

Saya sampai merinding (menontonnya). Mungkin inilah yang dipesankan oleh orang tua dan militer mereka pada tentaranya. Jadi yang kamu tempurkan itu adalah idealisme, bukan manusianya. Manusianya itu sama seperti kita. Kalau kalau kamu berhasil menundukkan / mengalahkan mereka, bukan mereka harus disiksa habis-habisan.

Itu kesannya (adalah untuk) mengasihi mereka yang tidak berdaya, karena mereka (benar-benar) sudah tidak berdaya lagi.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Nah ini adalah kalimat yang penting untuk dicatat oleh semua bangsa Indonesia. Jadi kalau kita mau mencalonkan diri sebagai pemimpin, coba lihat kedalamlah. Keluarga kita sudah beres belum? Sudah berhasil belum kita menjadi pemimpin bagi diri sendiri.

Jadi kalau belum, nggak usah nyalonin diri dulu. Malulah pada diri sendiri. Apa saya sudah sanggup menjadi pemimpin orang lain? Karena memimpin keluarga saja belum sanggup, bagaimana memimpin sekian banyak orang.

Jadi yang ditekankan adalah, coba kamu sanggup belum memimpin dirimu, keluargamu, anakmu? Baru memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra
yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.

Nah inilah manusia yang seutuhnya. Di saat ceria, dia ceria. Di saat dia perlu tertawa, dia tertawa bercanda. Saat dia perlu menangis, dia menangis. Itulah manusia yang seutuhnya.

Jadi nggak usaha menahan tangis, nggak usah sok jaga image, kemudian lantas nggak bercanda dengan bawahan atau sama orang lain. Dia biasa saja. Jangan kaku-kaku amatlah.

Jadi bahasanya Douglas “Saya ini seorang jenderal lho, tapi waktunya bercanda, ya bercanda. Waktunya berdiri bareng anak buah, ya berdiri bareng. Waktu menyanyi bareng, ya menyanyi. Waktu nangis bareng, ya menangis. Karena jenderal itu kan cuma pangkat, but I am a human being. Manusia seperti umumnya. Jenderal juga manusia”.

Putera yang berhasrat
untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.

Jangan lupa sejarah. Setelah kita punya cita-cita, jangan lupakan sejarah. Jangan lupa asal-usul kita, jangan lupa seperti apa dulu kita. Karena kalau kita lupa semua, kita jadi orang yang arogan & lupa diri.

Meskipun kamu sudah berjalan kedepan, sekali-kali lihatlah kebelakang supaya kamu tidak jadi orang yang sombong.

Sama seperti saat kita naik mobil, mata lihat lurus kedepan, disitu juga ada kaca spion untuk sesekali melihat ke belakang. Tapi jangan lihat ke belakang terus.

Dan, setelah semua menjadi miliknya…
Berikan dia cukup kejenakaan
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Ini adalah sebuah kombinasi. Pertama, bahwa manusia yang sehat itu adalah manusia yang suka bercanda. Coba perhatikan orang yang tidak suka bercanda, secara mental pasti dia tidak sehat. Mukanya juga kaku.

Jadi dia (Douglas) ingin mengatakan kepada anaknya: tempatkanlah dirimu sebaik-baiknya pada saat yang tepat. Jadi saat bercanda, jangan menangis. Saat serius, jangan bercanda. Semua ada tempatnya.

Dalam kalimat ini Douglas mungkin menekankan bahwa prosesnya harus dinikmati. Jangan membuat kamu tegang. Kamu boleh punya cita-cita tapi prosesnya itu adalah sebuah kenikmatan pencapaian.

Banyak di antara kita yang ingin menjadi sesuatu, tapi stress. Karena masih memiliki ketakutan untuk gagal. Jadi dengan adanya kita menguasai diri sendiri dan tidak takut gagal atau bangga akan kegagalan maka dia bisa menikmati hidup.

Jadi hidup itu hanya bisa dinikmati pada saat kita bisa menerima kekalahan sama seperti saat menerima kemenangan. Jadi saat menang sama kalah, ya kita tetap happy. Dinikmati setiap prosesnya.

Tuhanku…
Berilah ia kerendahan hati…
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…

Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

Ini maknanya bagus sekali dan dalam sekali. Mungkin di antara kita semua bisa memaknai dengan cara kita masing-masing. Tapi kalau saya ditanya secara pribadi, ukuran sukses seorang ayah itu bukan menjadikan anaknya orang kaya, bukan menjadikan anaknya berkelimpahan secara materi.

Tapi Douglas ingin memberi gambaran bahwa: saya merasa sukses kalau anak saya rendah hati, kalau anak saya selalu ingat akan kesederhanaan, memiliki keagungan (budi) yang hakiki (yaitu seperti sifat Tuhan), bersandar pada sumber kearifan (yaitu Tuhan), serta memiliki kelemahlembutan dan kekuatan yang sempurnya (itupun sifat Tuhan).

Jadi dia ingin mengatakan bahwa saya merasa berhasil menjadi seorang ayah, kalau anak saya itu memiliki sifat-sifat seperti sifat-sifat yang dimiliki oleh Tuhan. Atau kira-kira gambarannya: saya berhasil / merasa berhasil kalau anak saya betul-betul mengenali Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai implementasi dari kehidupannya sehari-hari.

Dan pada titik itulah, hidup seorang ayah tidaklah sia-sia.

Jadi Douglas itu sangat low profile, sangat rendah hati. Dan kalimatnya menunjukkan siapa dirinya dan bagaimana dia ingin anaknya menjadi anak yang baik.

Penutup

Maksud kami membacakan secara detail puisi Douglas McArthur ini adalah supaya para orang tua menjadi lebih cerdas dalam mendidik anaknya. Jadi jangan mau dengan begitu saja mau ditakut-takuti oleh iklan-iklan yang katanya bisa bikin anak sukses, bisa bikin anak berhasil dan sebagainya. Tapi dia sendiri belum menjadi jenderal besar tempur. Maksudnya, bukan harus jadi tentara. Jenderal besar tempur itu adalah orang yang menjadi besar karena berhasil mengarungi kehidupannya, berhasil mengatasi semua badai kehidupannya.

Sekarang ini koq orang-orang lebih mengerucut / mengarah pada pesan-pesan: harus begini, harus begitu, harus jadi orang kaya baru bisa sukses, dan sebagainya. Tapi kita lupa mengajarkan hal-hal yang basic sebagai human being. Jadi sekarang ini kita berfokus pada membesarkan anak untuk menjadi human doing / manusia robot. Bukan menjadikan human being / manusia yang punya hati nurani.

Nah, Douglas McArthur ingin mengatakan: saya ini dibesarkan oleh orang tua saya untuk menjadi jenderal tempur besar, tapi dengan pelajaran yang basic ini. Yang dibangun adalah human being-nya. Pada saat kita menjadi manusia yang utuh, maka kita bisa menjadi apapun yang kita mau.

Jaman itu mungkin manusia belum terlalu materialistis. Jadi para orang tua jaman itu masih mendidik anaknya untuk menjadi berbudi pekerti dan menjadi manusia seutuhnya.

Itulah kenapa tadi saya bercerita dokumentasi National Geography yang menayangkan bahwa pada saat tentara Jerman yang begitu dibencinya berhasil dikalahkan, tapi kemudian dia malah diperlakukan selayaknya manusia.

Sampai si tentara Jerman yang pensiun / veteran ini menangis menitikkan air mata. Mengapa saya masih diperlakukan sebagai manusia. Padahal kami sendiri memperlakukan mansia lain tidak manusiawi.

Hikmak dibalik ceita itu adalah “dekatilah manusia itu dengan kebaikan, maka dia akan menjadi baik.”

No Responses to “Doa Untuk Putraku – oleh Douglas Mc. Arthur (2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*