Doa Untuk Putraku – oleh Douglas Mc. Arthur (1)

FuadMuftie.Com :: Kembali saya ingin menuliskan catatan-catatan saya dari hasil mendengarkan acara Indonesia Strong From Home, di Radio Smart FM Jakarta, bersama Ayah Edy, yang ditayangkan pada hari Selasa tanggal 24 April 2013 (siaran ulang Sabtu 27 April 2013).

Douglas Mc Arthur

Douglas Mc Arthur

Kali ini mengambil tema: pembahasan puisi yang ditulis Jenderal Perang Douglas Mc Arthur pada tahun 1942, untuk putranya yang berusia 14 tahun, dengan judul Doa Untuk Putraku. Berikut kutipan terjemahannya:

Tuhanku…
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang sabar dan tabah dalam kekalahan.
Tetap jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku…
Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.
Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai
dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra
yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.
Putera yang berhasrat
untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya…
Berikan dia cukup rasa humor
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku…
Berilah ia kerendahan hati…
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…

Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

Berikut adalah Pembahasan dari Ayah Edy

Kesan dari Puisi Douglas McArthur ini bahwa sebagai seorang ayah, saya langsung tersentuh. Waktu membacanya bait per bait syairnya, terpikir bahwa ini perlu dibahas, perlu diulas, karena puisi ini sepertinya merupakan pesan dari Tuhan. Jadi waktu Douglas menulis puisi ini, yang menyentuh hati Douglas untuk mengeluarkan kalimat-kalimat ini pasti ada tangan Tuhan, yang ingin memesankan kepada para ayah di seluruh dunia.

Kalau dibaca berulang-ulang, bait demi bait, begitu bermakna dan bisa menitikkan air mata setiap membacanya. Kalau dibanding ayah jaman dulu yang berada di medan perang, dengan ayah saat ini, apakah masih ada ayah yang mendoakan anak-anaknya. Kalaupun berdoa, apa kira-kira isi doanya.

Kalau kita menganggap doa hanya ucapan-ucapan dalam beribadah sebenarnya itu kurang tepat. Ucapan-ucapan keseharian kita kepada anak, ini adalah juga merupakan doa untuk anak. Seandainya kita bisa meresapi, merenungi, dan memahami dengan benar, pemaknaan akan apa pesan Tuhan di dalam puisinya, maka kita akan tersadarkan. Seberapa jauh kita mendoakan anak kita dan seberapa jauh pesan-pesan kita yang begitu berbeda jauh dengan pesan Douglas Mc Arthur.

Sejauh yang kami tahu, pesan orang tua tak jauh dari seputar nilai, jadi juara umum, yang semua berhubungan dengan angka-angka. Kalau doa kita hanya angka-angka, kemudian kita abadikan, dan kita turunkan dari generasi ke generasi, maka Indonesia sebentar lagi akan terpecah belah.

Kalau doa yang kita panjatkan merupakan doa yang tersadarkan dan tersentuh pesan Tuhan seperti doa Douglas McArthur ini maka Indonesia akan menjadi mulia dan lebih baik lagi.

Apa yang melatar belakangi Douglas menulis doa ini?

Meskipun tidak banyak mendalami sejarah, saya yakin bahwa orang tua Douglas adalah orang tua yang bijak dan menurunkan kebijakan ini kepada anaknya. Kemudian yang kedua bahwa Douglas pastinya berpikir sudah tidak akan kembali lagi pulang, karena dalam perang tidak ada yang tahu apa akan bisa kembali pulang. Kebanyakan prajurit yang maju ke medan perang, sudah berpesan kepada keluarga mungkin tidak akan kembali lagi.

Di titik nadir tersebut, hadirlah inspirasi ini, jika sudah tidak menjadi seorang ayah, tidak lagi menjadi kepala rumah tangga, dan tidak lagi menjadi jenderal, warisan apa yang akan diteruskan oleh keluarganya, oleh anaknya. Yang terpikir adalah warisan generasi seperti apa, bukan warisan harta. Jika Indonesia bisa berpikir apa yang akan diwariskan pada generasinya, maka Indonesia tidak akan seperti ini.

Douglas Mc Arthur

Douglas Mc Arthur

Berikut uraian bait-per-bait puisi Douglas Mc Arthur

Tuhanku…
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.

Ini adalah kalimat yang kontra atau ekstrim, dari satu kutup ke kutup yang berikutnya. Dia berdoa menginginkan anaknya kuat / strong, tapi dia juga ingin anaknya kuat untuk mengetahui kelemahannya. Ia ingin mengajarkan kepada putranya bahwa manusia selalu punya kelemahan / kekurangan. Sadarilah bahwa kita manusia yang punya kelemahan / kekurangan.

Kecenderungan orang tua jaman sekarang tidak ingin melihat kelemahan anaknya. Contohnya: orang tua akan marah kalau melihat satu saja nilai anaknya yang merah. Tidak lagi menolerir adanya kelemahan anak. Orang tua tidak bisa melihat kewajaran kalau anak ada nilai yang bagus dan nilai yang merah (jelek).

Itu satu pesan bahwa dirimu pasti punya kelebihan dan kekurangan. Dia (Douglas) ingin anaknya tahu adanya kelebihan dan kekurangan manusia.

Kalau orang sadar bahwa dia punya kelemahan maka ia akan sadar bahwa ia hanyalah manusia biasa. Banyak orang yang tidak kuat melihat / menanggung kelemahannya, maka ia menjadi merasa superior. Contohnya saat ini banyak orang yang sudah terbukti bersalah tapi tidak mau merasa salah dan tidak mau mengakui kesalahannya.

Jadi, terimalah bahwa kelemahan itu bagian dari kehidupan yang alami, bukan untuk ditutupi atau disembunyikan.

Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.

Saya belajar bahwa sumber dari segala kekacauan itu berasal dari ketakutan. Takut tidak punya uang, takut tidak cukup, takut gaji kecil, takut menderita, takut kalah, dsb.

Sumber motivasi manusia itu ada dua : Ketakutan dan Cinta Kasih. Orang melakukan apapun, sumbernya dua hal tersebut.

Orang tua memarahi anaknya karena ia takut anakanya nggak lulus, kalau nggak lulus nanti nggak bisa kerja, kalau nggak bisa kerja nanti nggak bisa cari uang. Padahal Tuhan sudah mengatakan tidak perlu takut. Dunia ini melimpah ruah, dunia diciptakan penuh keberlimpahan. Karena takut, manusia menjadi serakah. Douglas berpesan pada anaknya, yang penting harus menghadapi ketakuan diri sendiri sendiri, sebleum menghadapi dunia.

Dalam ajaran agama, hal ini digantikan dengan cinta, kasih, dan sayang. Karena kalau sumbernya kasih / sayang, apalagi yang unconditional love, maka kita tidak punya tekanan emosi apapun pada anak kita. Meski nilai anak jelek, maka “kau tetap anakku yang tersayang nak, sukses tak tergantung pada nilai merah atau hijau nak…”.

Bagaimana Kira-Kira Sistem Pendidikan Yang Mendidik Douglas?

Pendidikan itu sumbernya dari rumah. Pada saat rumah sudah benar, maka anak ia akan menjadi anak yang benar. Karena secara alamiah ia akan belajar dari kedua orang tuanya, dia akan percaya pada orang tuanya. Kalau anak sudah tidak percaya lagi pada orang tuanya, maka pertanyaannya “kenapa sampai tidak bisa dipercaya sama anak?”.

Sekolah itu dirancang untuk membantu kita menambah pengetahuan, skill yang tidak dimiliki orang tua. Tugas orang tua membangun mental anak. Yang dilakukan Douglas disini juga membangun mental. Karena pada saat si anak sudah punya mental “Jenderal Tempur” maka ia akan bisa menghadapi dunia. Karena dunia tidak butuh banyak ilmu pengetahuan, tapi butuh (1) otak yang kreatif, (2) kemampuan analisis (Decision making), dan (3) selalu ingin belajar. Saat anak punya ke-3 skill tersebut, anak akan tumbuh menjadi orang yang luar biasa.

Manusia yang sabar dan tabah dalam kekalahan.
Tetap jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Pada saat orang kalah itu bisa tabah, maka tidak akan ada kecurangan. Kecurangan demi kecurangan yang terjadi karena kita tidak bisa menerima kekalahan. Kekacauan pilkada kita karena tidak bisa menerima kekalahan. Douglas mengajarkan bahwa kalah itu bagian dari kehidupan. Kalau bisa bangga dengan kekalahan, maka siap-siap untuk menerima kemenangan.

Kalah menang itu siklus alami. Sama seperti sehat-sakit, siang-malam, dll. Pada saat kita hanya mau menerima siang saja tanpa bisa menerima malam, maka kita hanya setengah manusia, tidak seimbang atau tidak balance.

Douglas menginginkan anaknya jadi balance dan bangga, tidak perlu malu kalau kalah. Maksudnya, saat bisa tidak menderita dengan kekalahan, itu berarti ia anak yang hebat. Ide-idenya tidak akan mengarah pada kecurangan, tapi mempelajari bagaimana saya kalah dan bisa bangkit kembali.

Intinya ada dua: (1) Kalau orang bisa menerima kekalahan, maka ia belajar. (2) Sementara kalau orang tidak bisa menerima kekalahan, cenderung akan curang.

Bagaimana Memaknai Kemenangan?

Kalah menang itu yang menentukan biasanya sistem. Sama seperti olah raga, dalam sepakbola yang menentukan adalah siapa yang banyak gol, dalam lari siapa yang cepat sampai. Kalau kemarin kalah dan tidak menderita, maka saat menang juga tidak sombong / jumawa.

Douglas mengajarkan kalau sekarang kalah, berikutnya bisa menang. Kalau sekarang menang, berikutnya bisa kalah. Douglas mengajari filosofi gelombang kehidupan. Seperti gelombang di laut, kadang gelombangnya tinggi, kadang lautnya tenang.

Sayang pesan-pesan seperti ini tidak disampaikan ke anak-anak kita. Jadinya tidak bisa menerima kegagalan. Sehingga yang terjadi di sekolah malah muncul bocoran-bocoran soal.

Yang perlu kita lakukan adalah menguatkan anak saat mengalami kekalahan. Peluklah ia, berikan motivasi. Yang umumnya terjadi, yang kita peluk kebanyakan yang menang. Sehinnga muncul anggapan anak kalau tidak menang maka tidak disayang.

Akibat dari tidak siap menerima kekalahan adalah orang akan mencurahkan segala upaya untuk menang, dan ini biasanya ditempuh dengan cara curang. Secara bahasa tubuh, orang tua sering menyiratkan tidak bisa menerima kekalahan anak. Yang bisa diterima hanya yang menang.

Saat anak mengalami kekalahan, pujilah sisi positifnya. Misalnya “hebat kamu nak, meskipun kalah kamu tidak marah, tidak menangis, dll”. Jadi ajarilah anak bahwa kalah menang itu hanyalah siklus.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.

Kalimat yang dibuat Douglas selalu mengkombinasikan dua kutup, seperti halnya utara-selatan, panas-dingin, siang-malam, cantik-cantik sekali, dll. Ia ingin anaknya menyadari tarikan-tarikan kedua kutup, dan tidak hanya terbawa ke satu kutup saja. Tujuannya agar anaknya menjadi manusia yang seutuhnya.

Hidup ini tidak semata-mata untuk ‘belajar’, hidup ini adalah cita-cita. Hidup ini adalah proses dalam mencapai cita-cita. Dan kalau sudah punya cita-cita, ayo kerja keras, jangan hanya berangan-angan. Tapi wujudkan mimpinya. Ia (Douglas) adalah ayah yang bijaksana, ia tidak memaksakan anaknya menjadi tentara lagi, melainkan bebas memilih cita-citanya. Tapi jangan main-main dengan cita-cita. Kejar cita-citanya.

Yang sering terjadi pada orang tua sekarang adalah terlalu banyak menekankan “ayo belajar, ayo belajar…” tanpa menekankan pentingnya cita-cita. Sehingga yang terjadi setelah lulus, anak-anak tidak tahu mau ke mana dan mau ngapain. I don’t know what to do? Sama seperti bus yang berjalan tanpa tujuan.

Pak Munif pernah berkata “salah satu pembunuh cita-cita pertama seorang anak adalah orang tuanya”. Karena orang tua terlalu berambisi agar anaknya punya cita-cita sama seperti orang tuanya. Kesalahan berikutnya tidak menggali cita-cita anak, tapi memaksa anak untuk belajar dan menjadi juara umum. Anggapannya, juara umum itu adalah cita-cita, padahal bukan. Juara itu hanyalah sebuah prestasi (prestasi untuk menghafal jawaban soal-soal).

Seorang Putera yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Banyak sekali anak jaman sekarang seperti robot (human doing bukan human being). Dia tidak mengenal diri sendiri dan tidak sadar dengan diri sendiri.

Hal ini karena “mengenal diri sendiri” tidak ada dalam kurikulum. Sehingga tugas orang tuanyalah untuk menemukan jati diri si anak. Ini dilakukan dengan cara sering mengajak dialog, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, why? How? Dll

Misalnya tanyakan kepada anak “kenapa kamu marah?”, “bagaimana kalu begini saja?” Dan kalau anak sudah besar bisa dialog lebih dalam, seperti ajakan untuk mengenal tipologi manusia dan menanyakan ia masuk kelompok mana. Agar anak bisa mengelola emosi dengan baik. Kita bisa mengelola diri sendiri kalau kita tahu siapa diri kita.

Saat kita mengajarkan agama kepada anak, kita menganggap anak sudah tahu Tuhan-nya. Padahal tidak / belum tentu. Yang diajarkan kebanyakan hanyalah aturan-aturan saja, tanpa mengajarkan tentang Tuhan. Anak bisa diajak mengenal dan mempelajari alam semesta untuk mengenalkan Tuhan. Obyek alam semesta ciptaan Tuhan ini sebagai alat bantu untuk mengenalkan Tuhan pada anak.

— Bersambung di sini

Fuad Muftie

8 Responses to “Doa Untuk Putraku – oleh Douglas Mc. Arthur (1)”
  1. elfiana says:
    • Fuad says:
  2. Susi says:
    • Fuad says:
  3. Kuncung says:
  4. scotty says:
    • Fuad says:
  5. Agus ismunarno says:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*