Di Mana Salahnya LoA (Law of Attraction)?

Sejak dipopulerkan oleh Rhonda Byrne dkk, dengan ‘The Secret’-nya, kehadiran Law of Attraction (LoA) banyak mendapat sambutan baik positif maupun sambutan negatif. Yang tanggapannya positif karena salah satunya menilai dengan LoA semakin memudahkan proses mencapai tujuan dan menggapai impian. Yang menilai negatif, salah satunya karena LoA dianggap sebagai aliran (keyakinan) baru yang bertentangan dengan ajaran agama yang sudah dianutnya. Terutama di Indonesia, tiap membicarakan LoA selalu saja ada yang mengaitkannya dengan keyakinan agama tertentu.

thesecret

Mungkin karena LoA dipopulerkan oleh orang-orang yang berbeda keyakinan dengan mayoritas rakyat Indonesia, juga mungkin karena seolah-olah membawa believe system baru, dan pokok-pokok ajarannya yang sepintas bertentangan dengan keyakinan agama tertentu, sehingga kehadirannya menimbulkan pro dan kontra.

Padahal kalau dirunut, system atau teknik atau metode yang diajarkan Loa sudah beratus-ratus tahun yang lalu dipraktekkan. Dan sebelum munculnya istilah LoA tidaklah banyak yang menentang atau mengaitkannya dengan suatu ajaran agama.

Saya tidak ingin membahas pro kontra secara berlebihan. Di sini saya ingin berbagi pemahaman saya, sebagai jalan tengah menanggapi perbedaan penafsiran dan sikap terhadap LoA.

Memang bagi kita umat muslim, mesti hati-hati menyikapi, memahami, dan menerapkan prinsip LoA pada umumnya. Ada beberapa point yang saya pahami yang memunculkan resistensi bagi kalangan muslim, sehingga lebih baik kita kembalikan pada ajaran agama yang kita anut dan hanya gunakan teknik-teknik yang bisa selaras dengan ajaran agama yang kita anut.

Inilah beberapa point yang sempat saya catat & saya ingat:

1. Alam Semesta

Ini salah satu point yang sering dipertentangkan dengan agama islam. Dalam menjelaskan LoA para master LoA selalu menggunakan istilah alam semesta untuk menggambarkan kekuatan diluar kekuatan sendiri yang ikut berperan mewujudkan keinginan atau impian.

Dalam LoA disebutkan langkah-langkah yang dianjurkan, yaitu :

– pertama : Meminta apa yang anda inginkan

– kedua : Meyakini apa yang diinginkan sudah anda miliki / dapatkan

– ketiga : Melepaskan keinginan tersebut

– keempat : Menerima apa yang diinginkan

Setelah mengikuti keempat langkah tersebut, dianjurkan untuk menyerahkan proses pencapaiannya kepada “alam semesta”, dan meyakini alam semesta yang akan membantu mewujudkan impian kita.

Menurut saya penggunaan istilah alam semesta oleh penggagas LoA, karena mereka dari berbagai latar belakang agama / keyakinan; ada yang nasrani, ada yang Budha, dan mungkin juga ada dari aliran lain. Sehingga mereka tidak bisa menggunakan satu istilah yang cocok selain istilah alam semesta ini. Wallahu’alam kalau memang dari mereka ada niat untuk menyesatkan. Kitalah yang harus pintar-pintar menyerap pemahamannya.

Bagi kita yang muslim, kita harus yakin betul bahwa semua berasal dari Alloh SWT dan akan kembali kepada Alloh SWT. Dalam proses menginginkan sesuatu mesti bersandar 100% dan yakin hanya Alloh SWT-lah yang Maha Mengabulkan Doa, yang bisa mewujudkan keinginan kita. Kita hanya dianjurkan untuk ihtiar dan menjalankan fungsinya di muka bumi ini.

Kalau apa yang diinginkan bisa tercapai, pasti karena Alloh SWT mengijinkan. Dan kalau yang kita inginkan belum terwujud, kita harus yakin dan optimis pasti ada rencana Alloh SWT yang lebih baik buat kita.

Bagi saya LoA hanyalah tehnik atau strategi untuk mengkondisikan diri kita mempersiapkan masa depan, merupakan bagian dari ihtiar mendapatkan kehidupan yang lebih baik, merupakan metode untuk bisa tetap fokus pada pencapaian tujuan dan hajat di muka bumi ini. Jadi letakkan LoA pada porsinya, jika memang sudah merupakan bagian dari hukum di alam semesta, maka yakin tidak yakin terhadap LoA tetap saja akan berlaku hukum tersebut. Jika memang lebih tepat diletakkan sebagai suatu strategi, mestinya nggak jauh beda dengan strategi atau ihtiar atau cara-cara lain saat kita melakukan sesuatu.

Yang pasti jangan sampai LoA merusak aqidah atau menjauhkan kita dari Alloh SWT.

2. Afirmasi vs Doa

Dalam LoA dianjurkan untuk melakukan visualisasi, afirmasi, dan menetapkan tujuan secara spesifik. Proses visualisasi dan afirmasi sering dipersandingkan dengan doa. Memang dalam membuat visualisasi dan afirmasi sudah diatur rambu-rambunya. Salah-salah dalam melakukan visualisasi dan afirmasi akan berakibat yang sebaliknya.

Ada cerita seseorang yang sangat menginginkan rumah yang besar seperti rumah tetangganya. Dia melakukan visualisasi menempati dan tinggal di rumah tetangganya tersebut. Dia membuat afirmasi yang menyatakan dia sudah tinggal di rumah seperti rumah tetangganya tersebut. Setiap lewat depan rumah tetangganya, dia bayangkan dia sudah menempati rumah seperti itu. Dan benar saja beberapa bulan kemudian dia berhasil menempati rumah tetangganya tersebut, karena rumahnya sendiri yang kecil terkena musibah kebakaran, dan dia ditampung sementara di rumah tetangganya.

Jadi hati-hati dalam melakukan visualisasi dan afirmasi ini.

Dalam islam sendiri lebih banyak diajarkan doa-doa yang tidak se-spesifik seperti yang diajarkan LoA.  Bagi kita, tidak salah membuat impian dan cita-cita yang spesifik, tidak salah melakukan visualisasi sudah mencapai tujuan tersebut, dan tidak salah menghadirkan emosi (vibrasi) positif untuk memperkuat proses LoA-nya. Namun dalam melantunkan doa hendaknya mengikuti tauladan Nabi & orang-orang shaleh.

Cobalah baca doa-doa yang sudah diajarkan, lantunkan doa-doa yang sudah diajarkan untuk menggapai impian kita. Sekiranya ingin menggunakan kalimatnya sendiri, buatlah kalimat doa yang santun, yang menghiba dan merendah dihadapan-Nya. Tambahkan istighfar, mengakui dosa-dosa kita, mengakui diri kita lemah dan banyak salah, serta Agungkan nama-nama-Nya.

Tidaklah perlu kita “menodong” doa kepada Tuhan dengan menggunakan afirmasi secara mentah dengan mengajukan permintaan-permintaan yang terlalu spesifik, seperti “Ya Tuhan berilah hama mobil honda crv pada tahun 2012 ini”. Alloh SWT Maha Tahu dan pasti tahu apa-apa yang terbaik bagi kita. Mungkin cukup pandangi dan baca dream book kita, vision board kita, daftar impian kita, kemudian baru berdoa sesuai adab berdoa, dan mungkin bisa gunakan bahasa semacam ini “Ya Alloh sekiranya ini baik bagi saya, keluarga saya, dan orang-orang disekitar saya, mudahkanlah Ya Alloh. Namun sekiranya ini tidak baik bagi saya, Engkau Maha Tahu yang terbaik bagi saya Ya Alloh”. Kurang lebih begitulah.

Oke mungkin itu saja pendapat pribadi saya yang bodoh dan awam ini. Yang penting jaga selalu aqidah kita. Jika memang bertentangan, jangan ragu-ragu untuk meninggalkannya.

Kalau ada yang salah dari tulisan saya ini, mohon maaf, dan saya sangat terbuka dengan masukan, kritikan, cacian, saran yang membangun untuk kebaikan kita bersama.

Wassalam
Fuad Muftie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*