Cermat Awasi Anak Bersosial Media

Bunda Elly Risman dalam acara Indonesia Morning Show di Net TV membeberkan tentang sisi negative social media bagi anak-anak. Banyak sekali kasus yang terjadi terhadap anak akibat kegandrungan anak pada socmed, misal kasus penculikan anak karena berteman di socmed, ada juga kasus bullying karena cemburu di media sosial, dll.

Media Sosial

Media Sosial

Menurut Elly Risman kasus semacam ini muaranya adalah cultural shock. Maksudnya, orang tua dan keluarganya terkagum-kagum dengan kemajuan media sosial, “wow ada teknologi seperti ini!”. Terus orang tua ingin anaknya juga mengikuti kemajuan teknologi tersebut. Akibatnya orang tua menjadi banyak melanggar aturan, socmed yang seharusnya digunakan anak umur 13 tahun ke atas, diberikan kepada anak yang masih dibawah umur. Karena orang tua tidak ingin anaknya ketinggalan jaman.
Orang tua juga ingin anaknya kekinian, ingin anaknya menjadi seperti anak-anak orang lain (yang sudah salah). Anak SD sudah diperkenalkan gadget canggih dan didaftakan dalam berbagai media sosial. Padahal aturannya jelas, media sosial hanya untuk anak 13 tahun ke atas.

Orang tua tidak menyadari akan dampak dampak jangka pendek maupun jangka panjangnya. Orang tua tidak pernah menyiapkan pemahaman kepada anak mengenai boleh dan tidak bolehnya dalam menggunakan medsos. Meskipun sudah banyak himbauan “Kamu harus berhati-hati di sosmed!”. Tapi itu tidak akan masuk dalam pikiran anak. Anak belum faham apa makna dari “hati-hati”. Seharusnya orang tua bisa menjelaskan dengan detail apa dan mengapanya, orang tua harus duduk dialog dari hati ke hati, dengan bahasa yang bisa diterima anak, dan dijelaskan detail semua hal ihwal sosial media berikut dampak-dampaknya.

Umpamanya jelaskan kepada anak kalau berteman di socmed bisa saja akan bertemu teman yg fake di socmed. Kalau anak posting foto atau status yang buruk, apa akibat-akibat yang akan terjadi. Contohkan bahwa kalau di luar negeri, anak yang memposting sesuatu yang negatif dan buruk, maka dia tidak akan diterima di universitas, dan tidak bisa diterima bekerja. Jadi yang banyak hilang di jaman ini adalah kesempatan dialog dengan anak seperti ini.

Masih menurut Elly Risman, kata kuncinya dari kerusakan ini adalah abai. Banyak orang tua yang abai akan dampak negatif social media. Bahwa dari kebebasan di social media bisa berakibat pada kerusakan otak anak akibat konten berbau pornografi, bisa juga anak akan lari dari keluarga karena lebih asyik di dunia maya, dll.

Kita tahu bahwa banyak dari orang tua yang tingkat pendidikannya terbatas. Tidak punya kemampuan mengeksplore segala hal dari kemajuan teknologi. Semua peralatan (gadget) yang ada tak akan terkejar oleh kemampuan orang tua. Sementara kemampuan anak jaman sekarang sepertinya unlimited. Berbagai teknologi yangg dianggap aman bagi orang tua, bisa menjadi berbeda jika di tangan anak.

Ketidaktahuan dan sifat abai orang tua ini bisa tercermin dari postingan orang tua di social media. Ada ortu yang posting foto bayi/anaknya ketika mandi di fb, kemudian juga membuat album foto anaknya di instagram. Ortu tak sadar dari foto tersebut anaknya bakal jadi korban pedofil. Sementara orang tua tersebut merasa bangga dengan apa yang dilakukan. Karena itu tadi, ortu tidak punya knowledge yang memadai. ortu juga tidak pernah diberi pemahaman tentang how-to-nya mendidik anak-anak platinum yang hidup di dunia digital.

Banyak ortu yangg memfasilitasi anaknya dengan berbagai gadget, karena gengsi melihat anak orang lain juga diberi gadget. Akibatnya ada kasus anak umur 4 tahun sudah foto naked selfie dan orang tuanya tidak tahu. Mungkin saja itu bukan ide dari anak sendiri yang memulai, bisa jadi dari pembantunya, karena ada foto2 semacam itu di hp pembantunya, dan anak-anak meniru. Anak SD bisa melakukan aktifitas seksual tiap hari, karena informasi begitu derasnya sampai ke anak.

Kalau Sudah Kadung Bagaimana?

Pertanyaan yang muncul adalah kalau sudah terlanjur, sudah kadung, apa yang harus dilakukan ortu?
Menurut Elly, biasanya anak-anak punya jarak psikologis dengan ortu. Biasanya ortu bilang “keluarga saya baik-baik saja”, padahal ada 3 hal yang perlu dicek:

1. bagaimana anak merasa tentang dirinya? Karena anak yang terabaikan, yang komunikasinya tidak baik dengan ortu, dia akan merasa “gua tidak berharga, gua jelek”. Dalam bahasa lain self image / self concept anaknya rendah.

2. kalau self image anak jelek apakah hubungan dengan keluarganya baik? Biasanya tidak. Maka relationship dengan keluarga juga jelek.

3. Jika self image jelek dan relationshipnya jelek, maka apakah kebutuhan jiwanya terpenuhi atau tidak? Pasti tidak!

Jadi delusi terbesar abad ini adalah “keluarga saya baik-baik saja”, padahal 3 hal tadi tidak ada. Akibatnya anak jaman sekarang sexual need-nya jadi tinggi. karena semua tersedia di social media.
Makanya perbaiki dulu 3 hal tadi: self image, relationship, dan kebutuhan jiwa anak.

Elly Risman menjelaskan bahwa kalau di awal saja anak belum ada bekal dan tidak ada perencanaan buat anak, bagaimana di evaluasi kalau perencanaannya tidak ada. Untuk itu perlunya untuk membekali dulu si anak, sebelum dikasih socmed & gadget, perkuat perencanaannya:

Pertama: beri tahu kegunaannya: bahwa ini hanya digunakan untuk begini, begini, begini, dst.

Kedua: beri batasannya: beri pemahaman kepada anak untuk menahan pandangan dan menahan kemaluannya. Ini sudah menjadi perintah agama.

Jadi memang yang sudah banyak hilang itu ya dialog seperti ini. Sementara orang tua sudah tak punya waktu, tak punya pengetahuan, dan tak terbekali tentang akibat serta dampak negatif sosial media.
Kalau kita ngomong sama anak, penuhi dulu apa yg hilang tadi
– buat kedekatan dg anak, jarak fisik, pandangan, nada bicara, sentuhan, pelukan, dll
– jelaskan pelan-pelan segalanya, banyak gunakan nada bertanya:
“kamu mau nggak otaknya rusak?” -> enggak
“kalau otak rusak, kira-kira gimana masa depanmu?” -> nggak baik
“oke jadi mama akan beri kamu gadget, tapi tak perlu yang canggih, karena cukup untuk keperluan ini, ini, dan ini, dan belum boleh punya socmed karena begini, begini, begini.”

Saran untuk orang tua, semakin mendekatkan dengan anak, perbanyak aktivitas bareng anak. Karena anak sekarang lapar pelukan. Perlu difahami bahwa “kalau pingin anaknya cerdas, cerdaskan dulu orang tuanya”.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*